Nasehat yang Menjerumuskan


  Dahulu, aku tak dapat melihat kebenaran, pun tak dapat menerimanya. layaknya sebuah mainan, hidupku selalu diatur oleh kakak perempuanku. Ia istri dari seorang pria lugu, tidak memiliki kepribadian yang kuat. Segala urusan rumah tangga diserahkan dan diatur sepenuhnya oleh kakakku.
Kakakku memiliki kepribadian yang kuat. Selalu memaksakan kehendak dan pemikirannya untuk dipatuhi dan ditaati. Dengan argumentasi yang kuat, tak seorang pun mampu mematahkan kata-katanya.

  Pada malam pernikahanku. Ia menemaniku semalaman penuh, tanpa tidur. Hingga pagi menjelang. Nasehat pertamanya, agar aku berteguh hati memegang prinsipku, menjadi pribadi yang kuat.

"Janganlah sekalipun memberikan perhatian, menampakkan kasih sayang pada keluarganya, karena semua itu akan membuatmu diremehkan oleh mereka. Perlakukan mereka secara formal. Jadikan dirimu orang pertama dalam hidupnya, sebelum ibu dan keluarganya. Jangan pernah melakukan ini dan itu... Jangan pernah mengatakan ini dan itu..." Banyak sekali nasehatnya. Pusing kepalaku dibuatnya.

  Pagi menjelang, pikiranku melayang merenungi nasehatnya. Hingga sebuah kata darinya membuyarkan lamunanku, "Seorang yang sehari lebih tua darimu, namun setahun lebih tahu darimu. Tanyakan pada orang yang sudah berpengalaman. Jangan bertanya pada dokter. Kaum pria hanya bisa dihadapi dengan cara demikian."

  Tiada henti-hentinya ia memberiku nasehat dan membagi pengalaman hidupnya. Hingga kepalaku penuh dengan nasehatnya. Aku hanya wanita muda, bodoh dan mudah terpengaruh. Tiada yang memberiku nasehat, selain kakakku. Kehidupannya menjadi cerminan bagiku. Hingga aku pun berangan menjadi duplikatnya. Dan benar, semua itu kulakukan.

  Aku menikah, dengan pemuda yang baik dan terdidik, tinggal tak jauh dari keluarganya. Ia pria yang mulia budi pekertinya, memperlakukanku dengan baik. Namun apa kata kakakku, "Semua pria tampak baik, untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan. Tapi tunggu saja suatu saat nanti."

  Sampai suatu ketika, aku ingin ia mengantarkanku ke pasar. Siang itu sangat panas.
"Sebaiknya kau tunda dulu rencanamu. cuaca di luar amat panas." kata suamiku, tidak berkenan mengantarkan.
Namun, aku tetap bersikukuh dengan pendapatku, merasa bahwa inilah kesempatan untuk meneguhkan prinsip. Terjadilah perdebatan sengit antara kami. Kukatakan padanya, "Engkau harus mengantarkanku sekarang!"
  Sejak itu, mulailah tampak tanda kegelisahan dan kemasaman di raut mukanya.
"Harus, sekarang," Kata-kata itu diucapkannya berulang-ulang, menirukanku.
"Engkau sekarang mulai main perintah, dan aku cukup melaksanakan?" sindirnya menilai kelakuanku.
"Tidak. Maksudku tidak begitu," jawabku.
Dan, "Braaaakkk!" Tepat dibelakangnya, sebuah pintu dipukulnya keras. Ia keluar.

  Darahku memanas, mengalir deras di sekujur tubuh, sebab permintaanku tidak terpenuhi. Tak lama kemudian aku menghubungi kakak, mengadukan kejadian itu padanya. Rasa cemas dan takut terhadapnya bercampur aduk menjadi satu.

  Setelah menenangkan, kakak mamanas-manasiku, "Dasar bodoh, Biarkan ia pulang ke rumah. Namun engkau jangan cemas, jangan berbicara dengannya, biarkan ia sendirian tanpa makan malam. Yakin dan percayalah dengan apa yang kukatakan tadi. Jangan pernah mundur selangkah pun. Dan seandainya ia semakin menyakitimu dengan kata-kata, katakan padanya, "Biarkan aku pergi ke keluargaku."

Anda tahu apa yang terjadi selanjutnya?
  Masalah semakin runyam. Padahal sebenarnya, semua berawal dari hal yang remeh, Semakin besar, hingga membuat hubungan kami tidak harmonis lagi. Ayahku pun harus ikut campur menyelesaikan masalah kami, berupaya mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Namun aku tidak lantas kapok. Mungkin saat itu, imanku tidak cukup kuat. Sebab, seorang mukmin tidak akan terpatuk ular dua kali dalam satu lubang yang sama. Sementara aku? Aku terpatuk belasan kali dalam lubang yang itu itu juga.

  Hal yang sederhana aku jadikan masalah dan pertengkaran. Sementara kakakku, tiada hentinya ia mengenduskan hidungnya pada setiap masalahku, kecil maupun besar. Ia mau agar aku menjadi sepertinya. Sementara ia tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa suamiku bukan seperti suaminya.

  Aku pun semakin menjadi-jadi. Aku persulit gerak langkahnya. Aku mau ia menuruti segala apa yang aku harap dan perintahkan. Aku berusaha menguasainya. Aku menekannya dengan segenap kekuatan, dalam hal sekecil apa pun. Kupenuhi telinganya dengan teriakan-teriakan, begitu aku ingin pergi ke pasar, ke taman, ke suatu acara atau ke tempat lainnya. Sampai ia mau menurutiku.

  Suatu hari, ketika aku sedang menginap di rumah keluarga. Pagi-pagi, tidak seperti biasanya, suamiku datang menjemput. Namun aku menolak, berdalih ingin lebih lama bercengkrama dengan mereka. Kebetulan saat itu, kakakku belum datang. Dan tampaknya suamiku saat itu sangat letih, ia tidak mau menjemputku untuk kedua kalinya. Memintaku untuk segera ikut bersamanya. Aku pun semakin keukeuh, bersikeras tidak mau pulang bersamanya. Hingga akhirnya ia pun melontarkan kekesalannya, "Ya, tetaplah duduk di sini sesuka hatimu!" Dan benar, aku tetap tinggal dan tidak pulang bersamanya ke rumah. Seperti yang aku mau.

  Terkadang, aku duduk termenung sendiri, berpikir, mana kenyamanan dan kebahagiaan yang sering dikatakan oleh kakakku? Di mana kerajaan pribadiku? Setiap hari, teriakan dan teriakan. Wajah kami tiada pernah bertatap, selain dengan kemasaman. Ia berharap sesuatu, sementara aku berharap yang lain. Kami terus berselisih paham. Setiap kali ia menolak permintaanku, aku pergi ke luar bersama keluarga besarku, kemanapun mereka mau, tanpa meminta izin darinya. Aku jarang berinteraksi dengan keluarganya.

  Aku semakin congkak dalam setiap langkah. kendatipun demikian, aku tidak mendapatkan kebahagiaan itu. Bahkan sebaliknya, hidupku bagaikan colocyinth (pare), amat pahit. Tidak pernah kurasakan kelembutan dan kasih sayang. Yang ada hanya kepayahan dan kesuraman, gersang. Aku tiada pernah membuat suamiku bahagia, pun tidak pernah kuperoleh apa yang ku mau. Bahkan, ia sering meninggalkan rumah dan semakin dingin. Terbingkailah ruang-ruang kejenuhan dalam kehidupan rumah tangga kami. Dan hujan nasehat masih terus saja datang membanjiri pikiranku.

  Sampai akhirnya sebuah peristiwa besar terjadi pada hidup suamiku. Peristiwa yang menggugah dan mengembalikan kesadaran. Ia menikah dengan wanita lain. Rayuanku tak dapat membuatnya berpaling dari keputusannya. Kepribadianku tidak pula menarik baginya.

"Aku tidak menginginkan seorang pria di rumah, tetapi wanita. Aku ingin kijang betina, bukan singa betina. Aku menikah untuk mendapatkan kasih sayang dan ketenangan. Namun hatimu keras seperti lidahmu. Aku jengah. Aku bosan dengan kesewenang-wenangan," kata-katanya menusuk hatiku.

  Sekarang, mungkinkah aku akan menarik kembali nasehat-nasehat yang telah merasukiku? Ya, tapi setelah apa?

  Abu Darda' Radhiyallahu Anhu berkata kepada istrinya, "Jika aku marah, relakanlah aku. Jika engkau marah, aku akan merelakanmu. Jika tidak demikian, betapa cepat kita akan berpisah."

Artikel terkait

No comments:

Post a Comment